Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 15 Mei 2011

Laporan Praktikum KLT

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
A. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Menentukan komposisi eluen yang tepat dengan metode cincin terkonsentrasi.
2. Menentukan nilai Rf dari zat warna pada tanaman dengan menggunakan pelat KLT.
B. DASAR TEORI
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan fisik, dimana komponen- komponen yang dipisahkan didistribusikan diantara 2 fasa, salah satu fasa tersebut adalah suatu lapisan stasioner dengan permukaan yang luas, yang lainnya sebagai fluida yang mengalir lembut di sepanjang landasan stasioner. Pada dasarnya Kromatografi Lapis Tipis ( KLT ) sangat mirip dengan kromatografi kertas, terutama pada cara melakukannya. Perbedaannya terlihat pada media pemisahannya, yakni digunakan lapisan tipis adsorben yang halus yang tersangga pada papan kaca, aluminium atau plastik sebagai pengganti kertas.
Dasar pemisahan pada KLT adalah perbedaan kecepatan migrasi di antara fasa diam yang berupa padatan dan fasa gerak yang merulakan campuran solven ( eluen ) yang juga dikenal dengan istilah pelarut pengembang campur. Jenis eluen yang digunakan tergantung jenis sampel yang akan dipisahkan. Eluen yang menyebabkan seluruh noda yang ditotolkan pada pelat naik sampai batas atas pelat tanpa mengalami pemisahan, dikatakan terlalu polar. Sebaliknya, apabila noda yang ditotolkan sama sekali tidak bergerak, berarti eluen tersebut kurang polar. Smpel yang biasanya berupa campuran senyawa organik diteteskan di dekat salah satu sisi lempengan dalam bentuk larutan dengan jumlah kecil, biasanya beberapa mikroliter berisi sejumlah mikrogram senyawa.
Cara termudah untuk memilih jenis eluen yang tepat adalah dengan menggunakan metode cincin terkonsentrasi. Hasil pengamatan akan nampak sebagai noda-noda berwarna pada kertas dengan jarak yang berbeda-beda dari garis awal. Perembesan eluen dihentikan setelah eluan hampir mencapai ujung kertas. Pada tahap ident8ifikasi atau penampakan noda, jika noda sudah berwarna dapat langsung diperiksa dan ditentukan garga Rf-nya.
Analisis dengan KLT yaitu
1. Persiapan pelat
Untuk pengujian cincin terkonsentrasi, pelat diberi tanda titik dengan pensil untuk tempat menotolkan noda dan tiap titik memiliki jarak yang sama panjangnya satu sama lain. Dan untuk penentuan Rf, pelat diberi tanda garis sebagai dengan pensil yang berjarak 1 cm dari bagian bawah dan 0,5 cm dari bagian atas. Pada pemberian tandadan garis ini tidak menggunakan tinta melainkan menggunkan pensil karena jika menggunakan tinta nanti tintanya bisa ikut berpendar atau memancarkan warna sebab tinta terdiri dari berbagai macam warna.
2. Pemilihan pelarut pengembang (eluen)
Pemilihan eluen tergantung pada jenis analit yang akan dipisahkan. Eluen yang menyebabkan seluruh noda yang ditotolkan pada pelat naik sampai batas atas pelat (solvent front) tanpa mengalami pemisahan berarti eluen terlalu polar. Sebaliknya jika noda yang ditotolkan sama sekali tidak bergerak berarti eluen kurang polar. Untuk menguji kesesuain eluen dengan analit digunakan metode cincin terkonsentrasi yang memberikan gambar sebagai berikut













Hasil kromatografi yang diadapat dari penggunaan eluen yang kurang polar, polar dan eluen yang sesuai adalah

3. Persiapan “Chamber”
Chamber yang digunakan dapat berupa bejana, gelas, atau botol dari kaca dengan dasar rata. Bagian dalam chamber dilapisi dengan kertas saring sampai seluruh dinding chamber tertutup oleh kertas saring tetapi bagian atas chamber tidak tertutup kertas saring sekitar 2 –3 cm. Kemudian eluen yang digunakan dimasukkan kedalam chamber sebanyak 5 mL untuk menjenuhi kertas saring dengan uap eluen tersebut dan selama proses penjenuhan chamber harus ditutup dengan pelat kaca sampai kertas saring basah seluruhnya. Kertas saring tidak boleh melebihi tinggi gelas karena uapnya dapat keluar melalui kertas saring yang berada di luar gelas sehingga chamber tidak jenuh lagi dan noda tidak naik. Jika kertas saring terlalu kecil maka chamber tidak akan jenuh semuanya sehingga noda sulit naik atau berkembang.
4. Tahap penotolan dan tahap pengembangan
Untuk pengujian cincin terkonsentrasi, pada sebuah pelat ditotolkan beberapa noda sampel yang sama kemudian setiap noda ditotolkan eluen yang berbeda. Sedangkan untuk penentuan Rf, pada sebuah pelat ditotolkan beberapa noda yang sama di batas bawah pelat. Kemudian pelat dimasukkan ke dalam chamber yang telah dijenuhkan. Penempatan pelat dilakukan dengan hati-hati sehingga lapisan tipis fasa diam pelat tidak bersentuhan dengan kertas saring di dalam chamber dan noda yang ditotolkan tidak terkena pelarut. Setelah pelat diletakkan dengan benar, chamber ditutup dan dibiarkan eluen merambat naik secara kapiler. Setelah eluen mencapai batasatas pelat, maka pelat segera diangkat dan noda yang terbentuk ditandai dengan pensil, kemudian diukur Rf-nya. Jika tidak ada noda yang terlihat maka pelat disemprot dengan pereaksi penimbul warna seperti ditizon, ninhidrin, kalium kromat, amonium sulfida, dan sebagainya. Atau dengan cara menyinari pelat dengan lampu ultra violet atau menjenuhkan pelat dengan uap iodium.
Cara menghitung Rf adalah

Cara menentukan simpangan baku adalah



C. ALAT DAN BAHAN
a. Pelat kaca yang berukuran 5x 2 cm dan 3 x 5 cm
b. Pipa kapiler
c. Pinset panjang
d. Corong pemisah 100 mL
e. Gelas yang memiliki dasar rata, lurus, diameter  10 cm dan tinggi  7 cm
f. Kertas saring Whatman selebar bagian dalam gelas dan setinggi 2-3 cm dibawah mulut gelas
g. Gelas ukur 10 mL
h. Erlenmeyer 100 mL
i. Kaja arloji
j. Pelat kaca
k. Pelat cat air
l. Metanol
m. Daun pandan betawi yang sudah diblender kering  25 g


D. CARA/ALUR KERJA
1. Persiapan Sampel
Sampel: pandan betawi



























2. Persiapan pelat















3. Persiapan Eluena dan Tahap Penotolan dan Pengembangan Sampel
a. untuk cincin terkonsentrasi


















b. untuk penentuan Rf


























4. Tahap penotolan dan pengembangan sampel
a. untuk cincin terkonsentrasi












b. untuk penentuan Rf

















E. DATA PENGAMATAN








Hasil Percobaan:
No. Perlakuan Hasil
Sebelum Sesudah
1.











2.










3.













4.

a.












b. Persiapan sampel
Daun pandan betawi, kunyit, dan daun pacar masing-masing 15 gram diblender.
• Daun pandan betawi + 10 ml metanol
• Daun pacar + 10 ml metanol
• Kunyit + 10 ml etanol
Filtrat yang diperoleh dimasukkan dalam corong pisah kemudian diekstraksi

Persiapan pelat
• Pelat yang akan digunakan dimasukkan ke dalam oven selama 10 menit. Ukuran pelat 3x5 cm.
• Diberi titik-titik dengan pensil untuk menotolkan noda (jarak antar plot 1 cm sehingga muat 6 titik).
• Pelat diberi batas dengan pensil, batas bawah 1 cm dan batas atas 0.5 cm.

Persiapan eluen:
• Untuk cincin terkonsentrasi.
Dicampurkan heksan : kloroform : etanol dengan perbandingan sbb:
A. 1:4.5:4.5 D. 4:3:3
B. 3:4:3 E. 4.5:4.5:1
C. 3:3:4 F. 4.5:1:4.5
• Untuk penentuan Rf
Dimasukkan kertas saring kedalam gelas namun tidak sampai bagian atas.
Dimasukkan 5 ml campuran eluen yang teh dipilih ke dalam gelas.

Tahap penotolan dan pengembangan sampel.
Untuk cincin terkonsentrasi
• Totolkan sampel 2-3 kali dengan pipa kapiler pada 6 titik yang telah di beri tanda pada pelat KLT sampai warnanya jelas. Diberi kode A-F untuk setiap noda.
• Mengambil campuran pada vial A dengan menggunakan pipa kapiler, totolkan pada noda A-F.
• Memperhatikan bentuk cincin yang terjadi dan menentukan perbandingan eluen mana yang paling sesuai untuk sampel.
Untuk penentuan Rf.
• Menotolkan 3 macam pigmen tanaman pada batas bawah KLT sebanyak 2-3 kali sehingga diperoleh noda yang cukup jelas.
• Memasukkan pelat ke dalam gelas yang telah diberi eluen dengan menggunakan pinset (posisi bawah pelat menyentuh dasar gelas).
• Menutup gelas tersebut dengan kaca dan biarkan sampai eluen tersebut menyentuh batas atas pelat.
• Mengembil pelat dengan menggunakan pinset dan mengamati perubahan yang terjadi kemudian diberi tanda dengan pensil dan ditutup dengan selotip agar warna noda tidak memudar.
• Menghitung nilai Rf komponen yang dihasilkan. Pandan betawi:Hijau tua (+)
Kunyit: kuning tua (+)
Daun pacar: Hijau tua (+)


Pandan betawi:Hijau tua (+)
Kunyit: kuning tua (+)
Daun pacar: Hijau tua (+)

Pandan betawi:
Hijau tua (++)
Kunyit: kuning tua (++)
Daun pacar: Hijau tua (++)





Pandan betawi:
Hijau tua (++)
Kunyit: kuning tua (++)
Daun pacar: Hijau tua (++)



Lapisan bawah (Pigmen sampel)
Pandan betawi:
Hijau tua (++)
Kunyit: kuning
Daun pacar: Hijau (+)













































Elue yang tepat adalah eluen D.
Dengan perbandingan Heksan : Kloroform : Etanol
4 : 3 : 3

















F. PERHITUNGAN DAN ANALISIS
PERHITUNGAN
a. Pandan Betawi:
Rf 1:
A. = 0.6571
B. –
Rf 2:
A. = 0.7143
B. = 0.6857
Rf 3:
A. = 0.9428
B. = 0.9143

b. Kunyit:
Rf 1:
A. = 0.5174
B. = 0.5428
Rf 2:
A. = 0.6571
B. –
Rf 3:
A. = 0.7428
B. = 0.6286


c. Pacar
Rf 1:
A. = 0.3143
B. = 0.3714
Rf 2:
A. = 0.4
B. = 0.4286
Rf 3:
A. = 0.6286
B. –
Rf 4:
A. = 0.8000
B. –
Rf 5:
A. = 0.9428
B. = 0.8857






Tabel rata-rata harga Rf:
Perhitungan Rf 1 Rf 2 Rf 3 Rf 4 Rf 5
A B Rata2 A B Rata2 A B Rata2 A B Rata2 A B Rata2
Pandan Betawi 0.6571 - 0.6571 0.7143 0.6857 0.7 0.9428 0.9143 0.9286 - - - - - -
Kunyit 0.5714 0.5428 0.5571 0.6571 - 0.6571 0.7428 0.6286 0.6857 - - - - - -
Pacar 0.3143 0.3714 0.3429 0.4000 0.4628 0.4143 0.6286 - 0.6286 0.8000 - 0.8000 0.9428 0.8857 0.9143

Perhitungan simpangan baku:
a. Pandan Betawi:
No


( )2

1. 0.6571 0.7619 - 0.1048 0.010983
2. 0.7000 0.7619 - 0.0619 0.0038316
3. 0.9286 0.7619 0.1667 0.0277889
( )2
0.0426035

S2 =
= 0.0142012


b. Kunyit:
No


( )2

1. 0.5571 0.6333 - 0.0762 0.0058064
2. 0.6571 0.6333 0.0238 0.0005664
3. 0.6857 0.6333 0.0524 0.0027458
( )2
0.0091186

S2 =
= 0.0030395


c. Pacar:
No


( )2

1. 0.3429 0.6200 - 0.2771 0.0767844
2. 0.4143 0.6200 - 0.2057 0.0423125
3. 0.6286 0.6200 0.0086 0.000074
4. 0.8000 0.6200 0.1800 0.0324
5. 0.9143 0.6200 0.2943 0.0866125

S2 =
= 0.0476367











ANALISIS
Pembuatan filtrat sebaiknya tidak menggunakan tangan secara langsung. Karena selain dapat mengkontaminasi sampel, juga sangan berbahaya karena pelarut yang digunakan juga cukup berbahaya. Sehingga pada waktu pemerasan dapat menggunakan plastik. Dan juga tidak boleh menggunakan kertas saring agar klorofil dari daun tidak tertinggal di kertas saring. Setelah ketiga bahan dihaluskan kemudian diberi pelarut. Untuk masing-masing bahan mempunyai pelarut yang berbeda. Untuk ekstrak kunyit berwarna kuning tua setelah ditambahkan etanol warnanya berubah menjadi lebih tua. Untuk ekstrak daun pandan betawi berwarna hijau tua setelah ditambah metanol warnanya berubah menjadi lebih tua. Sedangkan untuk ekstrak daun pacar berwarna hijau tua setelah ditambahkan metanol warnya ekstrak berubah menjadi lebih tua.
Filtrat yang diperoleh kemudian dimasukkan kedalam corong pisah dan diekstraksi dengan diklorometan. Diklorometan sebagai pelarut organik yang bersifat non polar dapat melarutkan pigmen filtrat yang bersifat non polar. Setelah larutan dikocok searah, kemudian didiamkan beberapa saat sehingga terdapat 2 lapisan yang berbeda. Lapisan atas berwarna lebih jernih dan lapisan bawah lebih kental dan lebih tua warnanya. Lapisan bawah inilah yang digunakan sebagai pigmen sampel.
Sebelum pelat digunakan sebaiknya dioven dahulu selama 10 menit yang bertujuan untuk mengaktifkan pelat dan untuk menghilangkan molekul-molekul air yang terikat dalam pelat. Setelah itu pelat yang akan digunakan untuk percobaan diberi titik-titik dengan pensil. Selanjutnya menotolkan sampel pada titik-titik yang telah dibuat tadi dengan menggunakan pipa kapiler. Setelah itu masing-masing totolan diberi eluen. Eluen yang dipakai merupakan campuran antara heksan, kloroform dan etanol dengan perbandingan yang berbeda-beda.
A. 1:4.5:4.5 B. 3:4:3 C. 3:3:4
D. 4:3:3 E. 4.5:4.5:1 F. 4.5:1:4.5
Berdasarkan percobaan dan pengamatan di pelat maka untuk percobaan penentuat Rf digunakan eluen D. Untuk penentuan Rf. Menotolkan 3 macam pigmen tanaman pada batas bawah KLT sebanyak 2-3 kali sehingga diperoleh noda yang cukup jelas. Memasukkan pelat ke dalam gelas yang telah diberi eluen dengan menggunakan pinset (posisi bawah pelat menyentuh dasar gelas). Menutup gelas tersebut dengan kaca dan biarkan sampai eluen tersebut menyentuh batas atas pelat. Mengembil pelat dengan menggunakan pinset dan mengamati perubahan yang terjadi kemudian diberi tanda dengan pensil dan ditutup dengan selotip agar warna noda tidak memudar.
Menghitung nilai Rf komponen yang dihasilkan dengan menggunakan rumus:

Dan diperoleh nilai Rf untuk masing-masing sampel sebagai berikut:
a. Pandan betawi: 0.6571, 0.7000, 0.9286
b. Kunyit: 0.5571, 0.6571, 0.6857.
c. Pacar: 0.3429, 0.4143, 0.6286, 0.8000, 0.9143

G. DISKUSI
Pada saat percobaan Kromatografi Lapis Tipis ini mengalami beberapa kendala antara lain:
1. Persiapan sampel yang kurang tepat karena pada waktu pembuatan ekstrak diberi air, sehingga harus membuat ekstrak ulang sehingga waktu yang dibutuhkan cukup lama.
2. Cincin yang terbentuk pada pelat kurang bisa sempurna karena pada saat penotolan sampel dan eluen pada pelat posisi pipa kapiler tidak tegak lurus.
3. Pada saat pernentuan Rf perpindahan warnanya tidak jelas hal ini dikarenakan:
• Penotolan sampel kurang banyak.
• Pada saat ekstraksi filtrat yang digunakan belum beripsah secara sempurna.
• Eluen yang digunakan tidak cocok.






H. KESIMPULAN
1. Komposisi eluen yang tepat dengan metode cincin terkonsentrasi adalah larutan D dengan perbandingan heksan : kloroform : etanol = 4 : 3 : 3..
2. Nilai Rf dari zat warna pada tanaman pandan betawi dengan menggunakan pelat KLT adalah Rf 1= 0.6571; Rf 2= 0.7000; Rf 3= 0.9286; Rf 4= -; Rf 5= -, dengan simpangan baku sebesar 0.0142012.
3. Nilai Rf dari zat warna pada tanaman kunyit dengan menggunakan pelat KLT adalah Rf 1= 0.5571; Rf 2= 0.6571; Rf 3= 0.6857; Rf 4= -; Rf 5= -, dengan simpangan baku sebesar 0.0030395.
4. Nilai Rf dari zat warna pada tanaman pacar dengan menggunakan pelat KLT adalah Rf 1= 0.3429; Rf 2= 0.4143; Rf 3= 0.6286; Rf 4= 0.8; Rf 5= 0.9143, dengan simpangan baku sebesar 0.0476367.

I. TUGAS / JAWABAN PERTANYAAN
1. Apakah yang terjadi jika eluen yang digunakan sebagai pelarut pengembang pada KLT terlalu polar atau kurang polar? Mengapa?
Jawab:
Jika eluen yang digunakan sebagai pelarut pengembang pada KLT terlalu polar, maka seluruh noda yang ditotolkan pada pelat akan naik sampai batas atas pelat tanpa mengalami pemisahan. Sebaliknya, jika eluen yang digunakan sebagai pelarut pengembang pada KLT kurang polar, maka noda yang ditotolkan sama sekali tidak bergerak.
2. Apa fungsi kertas saring pada percobaan penentuan R¬f?
Jawab:
Berfungsi untuk menjenuhkan gelas dengan uap pelarut setelah dibasahkan dengan uap dari campuran pelarut pengembang.
3. Mengapa permukaan pelat KLT tidak boleh rusak?
Jawab:
Agar warna pada sampel dapat terpisah dengan baik.
4. Mengapa pelat KLT yang digunakan harus dikeringkan dulu dalam oven?
Jawab:
Agar pelat bebas dari molekul-molekul air yang terikat. Jumlah air yang terikat sangat berpengaruh pada pemisahan, karena air terikat sangat kuat pada adsorben sehingga menghambat terjadinya kesetimbangan dengan molekul-molekul analit
5. Mengapa batas atas dan batas bawah pelat harus diberi tanda dengan pensil?
Jawab:
Karena warnanya tidak dapat menyebar pada pelat, dan tidak mempengaruhi warna pada sampel yang diujikan. Namun jika menggunakan pulpen, maka tinta pulpen warnanya akan menyebar dan mempengaruhi warna pada sampel.

J. DAFTAR PUSTAKA
Azizah, Utiya dkk. 2008. Panduan Praktikum Mata Kuliah Kimia Analitik II : Dasar-Dasar Pemisahan Kimia. Surabaya : Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Surabaya
Sianita, Maria Monica. 2008. Kromatografi. Surabaya : Departemen Pendidikan Nasional, FMIPA, UNESA.
Soebagio, dkk. 1999. Kimia Analitik II. Malang : Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar